Lombokvibes.com, Lombok Utara – Selain memakan buah bekas gigitan kelelawar, penularan virus nipah dapat mudah terjadi pada kelompok-kelompok tertentu.
Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Utara (KLU) mengingatkan adanya kelompok masyarakat yang dinilai lebih rentan terhadap potensi paparan virus Nipah, terutama mereka yang berinteraksi langsung dengan hewan, seperti peternak ayam dan peternak burung.
Kepala Dinas Kesehatan KLU, dr. H. Bahrudin M.Kes, menegaskan bahwa kewaspadaan terhadap virus ini harus ditingkatkan meski hingga saat ini belum ada kasus yang terkonfirmasi di daerah.
Peringatan tersebut, kata dia, juga sejalan dengan imbauan dari Kementerian Kesehatan agar daerah memperkuat langkah sosialisasi dan pencegahan.
“Ada kelompok-kelompok yang rentan ini, seperti peternak ayam, peternak burung, itu juga rentan,” ujar dr. Bahrudin, beberapa waktu lalu saat ditemui di Tanjung.
Ia menjelaskan, virus Nipah merupakan penyakit yang gejalanya kerap menyerupai flu biasa, sehingga berpotensi tidak disadari oleh masyarakat. Kondisi ini dinilai berbahaya karena bisa membuat penanganan menjadi terlambat.
“Dari Kementerian Kesehatan sudah memperingatkan untuk lebih meningkatkan kewaspadaan, terutama melakukan sosialisasi. Karena memang aneh juga ada virus Nipah. Tapi memang kenyataannya ada. Dan harus kita ingatkan masyarakat kita, karena gejalanya itu hampir sama dengan flu biasa,” jelasnya.
Penularan virus Nipah diketahui dapat terjadi melalui kelelawar buah yang terinfeksi. Buah yang telah digigit atau terkontaminasi air liur kelelawar berisiko menjadi media penularan apabila tetap dikonsumsi manusia.
“Kita tetap menyampaikan ke masyarakat untuk cuci tangan. Karena penularan virus Nipah ini lewat kelelawar buah. Kalau ada buah dimakan sama kelelawar ya harus dibuang saja gigitannya, jangan dikonsumsi,” tegasnya.
Selain melalui hewan, virus ini juga dapat menular lewat udara serta dari manusia ke manusia. Karena itu, kelompok dengan intensitas kontak tinggi terhadap hewan maupun lingkungan terbuka dinilai perlu meningkatkan kewaspadaan.
“Penularannya lewat udara juga. Manusia ke manusia juga bisa,” katanya.
Ia mengakui, tantangan terbesar saat ini adalah rendahnya tingkat kewaspadaan masyarakat karena belum adanya kasus di wilayah Lombok Utara.
“Ya masyarakat kurang mau aware karena belum ada kasus, harusnya masyarakat percaya,” ujarnya.
Sebagai langkah pencegahan, Dinas Kesehatan KLU mengimbau masyarakat, khususnya kelompok rentan seperti peternak, untuk disiplin menerapkan pola hidup bersih dan sehat. Mulai dari rutin mencuci tangan, menggunakan masker saat beraktivitas di lingkungan berisiko, hingga mencuci bersih buah sebelum dikonsumsi.
“Ya kita himbau agar masyarakat cuci tangan, gunakan masker, cuci buah sebelum dimakan. Kita harus meminimalisir paparannya,” tutup dr. Bahrudin.
Dinas Kesehatan memastikan edukasi dan sosialisasi akan terus digencarkan, terutama menyasar kelompok rentan, guna mencegah potensi penyebaran virus sejak dini.




























