Lombokvibes.com, Mataram- Sebanyak 251 guru dari berbagai kabupaten dan kota di Nusa Tenggara Barat berkumpul di Mataram dalam kegiatan Bimbingan Teknis Guru Master dalam Rangka Revitalisasi Bahasa Daerah yang digelar pada 17 hingga 19 Juni 2025.
Kegiatan ini diselenggarakan oleh Balai Bahasa Provinsi NTB sebagai bagian dari program prioritas Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
Pelatihan ini tidak hanya menjadi ajang peningkatan kompetensi, tetapi juga momentum penting untuk menguatkan kembali peran guru sebagai garda terdepan dalam menjaga kelestarian bahasa daerah. Di tengah tantangan arus globalisasi dan dominasi bahasa asing, para guru di NTB hadir sebagai penggerak utama pelestarian bahasa ibu seperti Sasak, Samawa, dan Mbojo.
Dalam sambutannya, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTB, L. Abdurrahim, menyampaikan bahwa guru memiliki tanggung jawab besar dalam menghidupkan kembali bahasa daerah di lingkungan sekolah.
“Guru tidak sekadar menyampaikan pelajaran, tetapi juga menjadi pelindung warisan budaya yang mampu menanamkan rasa cinta dan bangga terhadap bahasa daerah pada generasi muda,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi dedikasi para peserta pelatihan yang telah menunjukkan semangat tinggi dalam menjaga dan mengembangkan bahasa lokal di daerah masing-masing. Menurutnya, para guru master yang mengikuti kegiatan ini patut menjadi teladan karena tidak hanya menerima materi, tetapi juga menunjukkan kesiapan untuk menerapkannya langsung di lapangan.
Kegiatan ini juga menjadi ajang apresiasi atas keberhasilan NTB dalam ajang Festival Tunas Bahasa Ibu Nasional 2025. Kabupaten Lombok Barat, Lombok Tengah, dan Kota Bima menerima penghargaan nasional atas komitmen mereka dalam pelestarian bahasa daerah. Keberhasilan ini dinilai sebagai bukti bahwa perhatian terhadap bahasa ibu masih kuat di NTB, dan menjadi motivasi bagi daerah lain untuk ikut aktif dalam gerakan revitalisasi.
Mewakili Gubernur NTB, L. Abdurrahim menegaskan bahwa pelestarian bahasa daerah merupakan bagian penting dari pembangunan kebudayaan di NTB.
“ Bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga simbol kearifan lokal yang harus diwariskan dari generasi ke generasi. Kekayaan bahasa lokal di NTB menjadi aset budaya sekaligus potensi penguat sektor lain seperti pendidikan dan pariwisata,” tegasnya.
Kepala Balai Bahasa Provinsi NTB, Dra. Dwi Pratiwi, M.Pd., melaporkan bahwa beberapa bahasa daerah di NTB mengalami penurunan jumlah penutur, terutama di kalangan generasi muda.
Karena itu, ia menilai pelatihan ini sangat penting untuk membangkitkan kembali semangat penggunaan bahasa daerah di ruang-ruang publik, khususnya di sekolah.
“Jangan sampai generasi anak cucu kita hanya terbiasa dengan penggunaan Bahasa Asing,” sebut dia.
Sementara, Kepala Pusat Pengembangan dan Pelindungan Bahasa dan Sastra, Dr. Dora Amalia, yang hadir secara daring. Ia menyampaikan bahwa guru master memiliki peran strategis sebagai penggerak utama revitalisasi bahasa, tidak hanya di sekolah, tetapi juga dalam keluarga dan komunitas.
“Peran guru tidak hanya sebagai pendidik, tetapi juga sebagai agen perubahan dan penjaga identitas budaya. Semoga pelestarian bahasa daerah di NTB yang kini berada di tangan para guru yang terus bergerak, menginspirasi, dan menanamkan kebanggaan terhadap bahasa ibu di hati generasi penerus,” ujarnya.




























