Di hadapannya terdapat sebuah perkampungan, rumah rumah kayu berjejer dengan rapi di apit oleh rimbun pepohonan hijau. Penduduk kampung tersebut terlihat lalu lalang dengan kesibukan mereka masing masing. Pandangan si pemuda kemudian tertuju pada seorang wanita yang sedang duduk sambil menampi beras di teras rumah kayu. Wanita itu sangat cantik dengan rambut hitam panjang yang dibiarkan terurai. Dia juga mengenakan kemben dan kain tenun yang sangat indah. Sambil terus menampi beras, sesekali dia melemparkan senyum kepada si pemuda Nelayan.
Merasa seperti disapa, pemuda tersebut berjalan melewati warga lainnya dan menuju ke arah si wanita.
Melihat si pemuda semakin mendekat, wanita itu kembali melemparkan senyuman manis yang membuat hati si pemuda berdebar kencang.
Tanpa berkata apa-apa, wanita melepas nyiru di tangannya lalu bangkit dan berjalan ke arah hutan belakang rumahnya. Seolah dihipnotis, si pemuda mengikuti wanita itu berjalan ke arah hutan. Sesekali dia terkagum melihat akar akar pohon yang saling bertautan seperti ular dan sangat tebal.
Mereka terus berjalan melewati pepohonan tersebut dan semakin jauh dari perkampungan. Akhirnya, wanita itu berhenti di depan tiga buah batu besar berbentuk segitiga yang terletak di tengah hutan. Lalu dengan lembut, wanita itu meminta si pemuda untuk duduk bersila di depan batu tersebut sambil berkata, “Di sinilah tempat di mana kita akan menetap untuk selamanya.”
Di pesisir pantai Selong Belanak, ratusan warga berkumpul dalam suasana penuh duka dan kesedihan. Salah seorang warga mereka yang pergi melaut telah satu bulan tidak pulang. Para anggota keluarga terlihat menangis sambil berdo’a agar orang yang dicari segera pulang.
Selain melakukan berbagai ritual, mereka juga mengeluarkan berbagai jenis peralatan berbahan besi seperti panci, wajan, dan sebagainya lalu memukulnya bersamaan. Suara bising, ratapan tangis, dan puji pujian doa berbaur dengan suara debur ombak yang menyelimuti pantai Selong Belanak.
Di tengah hutan, sang pemuda merasa kebingungan. Dia mendengarkan berbagai macam suara mengerikan keluar dari dalam batu. Kebingungannya bertambah besar begitu melihat wanita cantik di sampingnya tiba tiba menghilang bagaikan tertelan bumi.
Sang pemuda mulai panik, dia bangkit dari tempat duduknya lalu berlari sekencang kencangnya. Namun akar akar pohon seolah hidup dan membelenggu kakinya. Keringat dan air mata mulai bercucuran. Dia terus berusaha keras untuk bangkit dan kembali berlari, tetapi akar selalu berhasil merantai pergelangan kakinya.
Dalam keputusasaan, tiba tiba kabut gelap datang menyelimuti langit, angin bertiup sangat kencang dan membenturkan pepohonan di sekitar. Suara suara aneh semakin jelas terdengar. Sang pemuda menjadi semakin ketakutan.
Dari balik kabut, kilat datang menyambar dan mengenai batu besar segitiga di belakangnya. Seketika itu juga batu tersebut runtuh dan mengeluarkan cahaya terang yang sayangnya membuat mata si pemuda menjadi buta. Dalam keputusasaan, sang pemuda berdo’a,
“Ya, Allah berikanlah hamba hidup.” rintihnya lemah, lalu pingsan dalam dekapan rasa takut.




























