Essays  

Malean Sampi: Jejak tradisi agraris yang berlari dalam lumpur

Property of Lombokvibes.com
Property of Lombokvibes.com

Penulis: Harianto, Jurnalis freelance & peneliti budaya di LRC

Lombokvibes.com, Lombok Timur– Di tengah geliat pembangunan dan modernisasi yang didesakkan ke desa, masih tersisa jejak-jejak yang berlari dalam kesunyian lumpur. Jejak itu bukan sekadar tapak kaki, melainkan denyut ingatan kolektif masyarakat agraris di Lombok Barat. 

Salah satu jejak itu adalah Malean Sampi, tradisi balapan sapi yang hidup di antara bunyi gamelan Kamput, percikan air sawah, dan getar spiritual petani yang masih percaya pada harmoni antara manusia, hewan, dan alam.

Malean Sampi, secara harfiah dalam bahasa Sasak berarti mengejar sapi. Namun dalam penghayatan budaya masyarakat di Lingsar dan Narmada, maknanya jauh lebih dalam. Ia bukan tentang manusia yang mengejar sapi, melainkan kisah tentang kebersamaan, kerja sama, dan penghormatan pada musim. 

Di tengah sawah berlumpur sepanjang 200 meter, sapi-sapi jantan pilihan dipacu oleh joki-joki muda, bukan hanya untuk memenangkan perlombaan, tetapi juga untuk merayakan kekuatan, kesabaran, dan warisan nenek moyang yang masih menggema hingga kini.

Waktu pelaksanaan Malean Sampi selalu dipilih dengan cermat—yakni menjelang musim tanam, ketika sawah masih kosong namun sudah tergenang air. Ini adalah momen istimewa, saat tanah baru saja bangun dari tidur panjangnya dan siap menumbuhkan kehidupan baru. 

Dalam momen inilah masyarakat menyisipkan tradisi sebagai pengantar harapan, seolah berkata kepada bumi: “Kami datang dengan semangat dan doa, terimalah benih kami dengan rahmat.”

Sebelum pertandingan dimulai, sapi-sapi dihias sedemikian rupa. Umbul-umbul kecil, bendera warna-warni, dan pita-pita menghiasi tubuh mereka. Hiasan ini bukan untuk hura-hura semata, melainkan bentuk penghormatan. 

Dalam kehidupan petani Lombok, sapi bukan sekadar hewan ternak. Ia adalah mitra kerja, penjaga lumbung, bahkan bagian dari keluarga. Malean Sampi menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk memberi penghargaan kepada sapi yang setia membantu mereka membajak sawah dan mengolah tanah.

Sepasang sapi akan dipasangkan ke dalam satu kerangka kayu, dilengkapi dengan gau, ayuga, dan samet, alat-alat kendali tradisional yang terbuat dari bambu dan tali. Joki berdiri di atas pijakan kayu yang dihubungkan ke sapi, memegang erat tali kendali, menyeimbangkan tubuh di atas lumpur yang licin, dan membaca gerakan langkah hewan yang dibawanya. Tidak ada ruang untuk salah hitung. 

Dalam tradisi ini, joki bukan hanya pengendali, tetapi juga penafsir tubuh sapi—sebuah keterampilan yang diwariskan dari generasi ke generasi. 

Tradisi serupa dapat kita temukan di wilayah lain Indonesia. Di Madura, dikenal karapan sapi, sementara di Kalimantan Selatan terdapat pacuan sapi rawa yang menyusuri ladang berlumpur. Namun, masing-masing memiliki keunikan konteks dan ritual. 

Malean Sampi lebih dekat dengan siklus musim tanam dan kehidupan petani. Ia tidak selalu bersifat kompetitif. Dalam banyak hal, nilai-nilai spiritual dan kebersamaan jauh lebih ditekankan ketimbang siapa yang paling cepat mencapai garis akhir.

Satu hal yang menarik, iringan musik dan bunyi-bunyian musik tradisional seperti gamelan Kamput, Batek Baris, dan tawak-tawak menjadi bagian integral dari perlombaan. Musik ini tidak hanya menghidupkan suasana, tetapi juga mengundang semangat kolektif warga. 

Di sekeliling sawah, anak-anak, ibu-ibu, dan para orang tua berdiri menyemangati. Mereka membawa bekal, bersenda gurau, dan menonton jalannya lomba seolah menyaksikan perayaan hidup yang telah lama dirindukan.

Namun, di balik semarak itu, ada kekhawatiran yang tak bisa disembunyikan. Perubahan zaman perlahan menggerus ruang tradisi. Sawah-sawah berkurang akibat alih fungsi lahan. 

Regenerasi dan Pelestarian Heritage

Generasi muda lebih memilih pekerjaan di sektor pariwisata atau industri kreatif. Bahkan dalam beberapa tahun terakhir, tidak semua desa mampu menyelenggarakan Malean Sampi karena keterbatasan sumber daya.

Malean Sampi pun perlahan mengalami transformasi. Dalam beberapa festival budaya, tradisi ini dipentaskan sebagai bagian dari atraksi wisata. Ini di satu sisi memberi panggung yang lebih luas, tetapi di sisi lain juga menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana menjaga kemurnian makna dari tradisi yang sudah akrab dengan ritual agraris, ketika ia mulai disulap sebagai tontonan luar?

Tantangan ini sejatinya adalah panggilan bagi kita semua untuk merancang strategi pelestarian yang tidak bersifat kosmetik semata. Pelestarian tradisi bukan sekadar dokumentasi, tetapi upaya menghidupkan kembali konteks sosialnya. 

Malean Sampi harus terus terhubung dengan siklus pertanian, dengan komunitas petani, dan dengan nilai-nilai yang melingkupinya. Ia bukan sekadar warisan budaya, tetapi jalan hidup.

Pemerintah daerah, lembaga budaya, dan komunitas-komunitas yang ada di desa dapat mengambil peran lebih aktif. Salah satunya dengan memasukkan tradisi Malean Sampi ke dalam kalender budaya daerah, lengkap dengan program edukasi budaya bagi generasi muda. Di sekolah-sekolah, tradisi ini bisa dikenalkan sebagai bagian dari pembelajaran lintas disiplin—antara seni, bahasa daerah, dan ekologi.

Selain itu, penting juga untuk mendorong regenerasi joki dan peternak muda. Melalui pelatihan, lomba kreatif, atau dukungan ekonomi berbasis komunitas, tradisi ini bisa terus hidup dalam nadi anak-anak desa. 

Sebab jika tidak, kita mungkin akan melihat Malean Sampi hanya sebagai catatan kaki dalam buku sejarah, bukan sebagai denyut hidup yang pernah ada dalam tubuh masyarakat Lombok.

Di tengah dunia yang serba cepat, Malean Sampi mengajarkan kita bahwa kehidupan tidak melulu tentang percepatan, tetapi tentang bagaimana kita mengakar. 

Dalam lumpur sawah yang lengket dan berat, ada pelajaran tentang ketekunan, keseimbangan, dan kebersamaan. Malean Sampi mengingatkan kita bahwa heritage atau warisan budaya bukan hanya untuk dikagumi, tetapi juga untuk dijalani.

Selama masih ada tanah dengan air  yang menggenang, selama masih ada petani yang setia membajak, dan selama masih ada sapi yang diperlakukan bukan sebagai beban, Malean Sampi akan terus berlari—tak hanya mengejar garis akhir, tetapi juga menjaga semangat kebudayaan masyarakat agraris yang tak boleh hilang. Nah, begitu?!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!