Essays  

Menyelamatkan air, menjaga sumber hidup di lingkar Rinjani

Property of Lombokvibes.com
Property of Lombokvibes.com

Penulis: Harianto, Peneliti budaya di Lombok Research Center (LRC)

Lombokvibes.com, Lombok Timur– Di balik bening mata air yang mengalir dari celah-celah bebatuan dan akar pepohonan, tersimpan ingatan kolektif yang tak terucap. Ia bukan sekadar sumber kehidupan, melainkan tapak warisan budaya yang telah dirawat turun-temurun oleh masyarakat agraris di Lombok Timur. 

Ketika masyarakat berkumpul melepas sesajen, menabur bunga, dan melantunkan doa-doa di tepi sumber mata air, sejatinya mereka sedang menjaga lebih dari sekadar air. 

Mereka sedang menjaga hidup, menjaga waktu, menjaga warisan budaya yang tak tertulis dalam dokumen negara, tapi dihafal dalam tubuh dan dilestarikan dalam ritus.

Lombok Timur bukan hanya lahan pertanian, melainkan lahan kearifan. Di desa-desa seperti Aikdewa, Jurit Baru, Sapit, Tetebatu, hingga Sembalun, tradisi selamatan mata air, dikenal dengan berbagai sebutan lokal seperti Ngalun Aiq, Nyelamet Tibu Bunter, Nyelamet Reban, Ngayu-ayu, hingga Ngansor Gadang dan Roros Reban, masih dijalankan dengan takzim. Dalam ritual-ritual ini, masyarakat tidak sedang melawan lupa, tetapi menegaskan kembali siapa mereka dan dari mana mereka berasal.

Di tengah gempuran modernitas yang menjauhkan manusia dari akar ekologis dan spiritualnya, ritus-ritus ini justru tampil sebagai oasis nilai. Sesajen bukanlah sebentuk kemunduran, melainkan tafsir kultural atas hubungan manusia dengan alam. 

Doa-doa bukan sekadar ucapan harapan, tetapi cara masyarakat bernegosiasi dengan ketidakpastian iklim, gagal panen, dan krisis air. Tradisi agraris ini adalah wujud kesalehan ekologis, jauh sebelum istilah ‘ekologi spiritual’ populer dalam diskursus akademik.

Air bagi masyarakat Lombok bukan hanya urusan teknis pertanian. Ia adalah simbol kemurnian, berkah, sekaligus kekuatan spiritual. Oleh karena itu, penyelamatan mata air tidak pernah bersifat parsial. Ia mencakup dimensi religius, sosial, hingga ekologis. 

Di Tibu Bunter, misalnya, mata air tidak sekadar dijaga dari sampah atau pencemaran, tetapi dijaga melalui ritus tahunan yang melibatkan seluruh warga desa. Ada solidaritas sosial yang dibangun, ada kesadaran ekologis yang dirayakan bersama.

Namun kesadaran dan kearifan itu diuji oleh kenyataan yang tak bisa dibantah: air kian berkurang dan menghilang. Data Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Lombok Timur mencatat bahwa dari sekitar 500 titik mata air yang terpetakan pada 2018, kini hanya tersisa 216 titik. 

Artinya, lebih dari separuh mata air hilang dalam rentang waktu kurang dari satu dekade, dan dalam dua tahun terakhir, penurunannya kian drastis. Sebuah kehilangan yang tak hanya berdampak pada keberlanjutan pertanian, tetapi juga mengoyak tatanan spiritual dan sosial masyarakat.

Kini, ketika Pemerintah Kabupaten Lombok Timur menegaskan komitmen melalui RPJMD 2025–2029 pada misi kelima, yakni memperkuat ketahanan sosial, pelestarian budaya, dan pengelolaan lingkungan berkelanjutan, ritus-ritus seperti ini menemukan relevansinya yang paling kuat. 

Sebab bagaimana mungkin bicara resiliensi terhadap perubahan iklim tanpa menyentuh akar kultural masyarakat yang sejak dulu telah hidup berdampingan dengan alam?

Pelestarian budaya bukan sekadar mempertahankan artefak atau festival. Ia adalah pengakuan bahwa sistem nilai lokal punya tempat dalam kebijakan publik. 

Praktik Budaya dan Strategi Adaptasi

Tradisi bukan beban masa lalu, tapi modal sosial untuk masa depan. Dalam konteks Lombok Timur, penyelamatan mata air adalah praktik kebudayaan yang sekaligus menjadi strategi adaptasi terhadap risiko iklim dan degradasi lingkungan.

Upaya pelestarian ini menuntut keseriusan. Ia tidak bisa hanya bergantung pada niat baik masyarakat adat atau komunitas pegiat budaya. Negara harus hadir, bukan sebagai pengatur semata, tapi sebagai fasilitator dan pelindung. 

Termasuk dengan memberi ruang dalam kurikulum lokal, menyusun buku ajar berbasis nilai-nilai kearifan lokal, serta menjadikan ritus penyelamatan mata air sebagai bagian dari agenda edukasi ekologis dan kebudayaan di sekolah-sekolah.

Tapi lebih dari itu, tantangan kita hari ini adalah bagaimana menjadikan ritus-ritus tersebut tak sekadar atraksi, melainkan praksis budaya yang hidup. Sebab terlalu sering, kebudayaan lokal hanya dihidupkan ketika ada proyek, festival, atau kunjungan pejabat. Ketika selebrasi selesai, ingatan kembali dikubur. Ini yang harus diubah.

Ritus penyelamatan air harus dikembalikan pada fungsinya yang semula sebagai pengingat bahwa kehidupan tak bisa dipisahkan dari alam dan nilai-nilai kearifan yang menyertainya. 

Tradisi bukan ornamen. Ia adalah denyut nadi masyarakat agraris yang paham benar bahwa tanpa tanah yang subur dan air yang mengalir, tak akan ada masa depan.

Di saat ancaman kekeringan, alih fungsi lahan, dan krisis iklim global, kita seharusnya kembali belajar dari ritus-ritus ini. Bukan untuk romantisasi, tetapi untuk memahami bahwa jalan keluar kadang bukan selalu soal teknologi tinggi atau dana jumbo, tetapi juga pada cara-cara sederhana masyarakat menjaga lingkungannya dengan hati.

Kita boleh punya program besar untuk ketahanan pangan dan air, tapi bila tak mendengarkan cara masyarakat menjaga aiq (air) dan tibu (hulu) mereka, maka kita hanya akan sibuk membangun dari atas, dan melupakan akar di bawah. 

Inilah pentingnya sensitisasi budaya dalam perencanaan pembangunan. Tradisi bukan sekadar warisan, melainkan strategi hidup. Ia harus hadir dalam RPJMD bukan sebagai pelengkap, tapi sebagai fondasi.

Akhirnya, jika suatu hari mata air itu kering dan tidak ada lagi doa yang dipanjatkan di Tibu Bunter, Aikdewa, atau Montong Betok, maka itu bukan semata karena iklim yang berubah. Tapi karena kita yang memilih melupakan. Kita yang terlalu sibuk dengan bahasa teknokratis hingga tak sempat mendengar bisikan bumi.

Karena itu, menyelamatkan mata air bukan hanya tentang menjaga sumber daya. Ini tentang menjaga memori kolektif. Menjaga hubungan manusia dengan alam. Menjaga nilai yang barangkali tak terukur dalam data statistik, tapi terasa dalam getar batin orang-orang desa yang sejak dulu tahu bahwa hidup harus dijaga bersama alam, bukan ditaklukkan.

Dari desa-desa di lingkar kaki Gunung Rinjani itulah kita belajar. Bahwa air bukan sekadar komoditas. Ia adalah kehidupan, dan kehidupan layak dirayakan dalam ritus yang penuh hormat.

< a title=" milad bima 2025" target="_blank">

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *