Penulis: Harianto, Jurnalis lepas dan peneliti budaya di LRC
Lombokvibes.com, Lombok Utara– Suatu sore di Teluk Kombal, Desa Pemenang Barat, Kecamatan Pemenang, jejak-jejak ritual seperti baru saja menguap dari pasir.
Laut mengendap tenang, seperti usai menerima titipan doa dari warga yang percaya bahwa alam pun punya perasaan, laut juga bisa marah dan perlu diruwat.
Tradisi itu bernama Nyelametang Telokan—ritual selamatan pantai yang telah lama dijalankan secara turun-temurun oleh masyarakat nelayan di Lombok Utara. Tapi sejak 2022, laut tak lagi dibacakan mantra, dan langit tak lagi disuapi harum kembang tujuh rupa.
Nyelametang Telokan bukan sekadar selamatan. Ia adalah narasi ekologi, warisan spiritualitas bahari, dan medium sosial yang mengikat komunitas pesisir dalam kesadaran bersama bahwa laut bukan obyek eksploitasi, melainkan subyek kehidupan.
Tradisi ini mengajarkan pada generasi muda bahwa keberkahan laut tidak datang dari alat tangkap yang canggih, tetapi dari rasa hormat, doa, dan pantangan. Namun, semua itu kini hanya hidup dalam kenangan dan sisa dokumentasi di layar telepon genggam warga.
Nyelametang Telokan terakhir kali digelar pada hari Rabu terakhir di bulan Safar, tiga tahun silam, dan semenjak itu menguap tanpa jejak. Tradisi yang semula digelar secara kolektif itu tak lagi menemukan ruang dalam keseharian masyarakat. Apakah kita sedang menyaksikan napas terakhir dari Nyelametang Telokan?
Pandemi Covid-19 yang lalu memang telah mengubah banyak hal, termasuk cara manusia memandang waktu, berkumpul, dan meñakukan ritual tradisi. Di antara deretan tradisi yang mulai kehilangan frekuensi, Nyelametang Telokan termasuk yang paling rentan.
Sebagai ritual yang melibatkan banyak orang, yang bersentuhan langsung dengan ruang alam dan spiritual, ia membutuhkan kekuatan komunitas, bukan sekadar inisiatif individu.
Tapi sayangnya, pasca-Covid dan gempa Lombok 2018 yang memorakporandakan sendi-sendi kehidupan warga, budaya semacam ini seperti hanya menjadi aksesori nostalgia.
Lebih dari itu, kita patut bertanya, siapa yang bertanggung jawab atas hidup-matinya sebuah tradisi?
Ketika pariwisata menjadi narasi dominan dalam pembangunan kawasan Pemenang dan tiga Gili, maka Nyelametang Telokan perlahan terdorong ke pinggir. Panggung budaya diambil alih oleh festival artifisial, sementara tradisi yang hidup dalam kesahajaan justru dibiarkan merapuh.
Ironisnya, justru dalam Nyelametang Telokan, ada semacam strategi konservasi laut yang jauh lebih subtil dan bijak ketimbang aturan formal dari institusi lingkungan hidup.
Bayangkan saja tiga hari pasca-ritual, nelayan dilarang melaut. Sebuah bentuk istirahat ekologis yang ditetapkan bukan oleh kebijakan pemerintah, melainkan oleh kearifan adat. Ikan diberi ruang untuk bertelur, laut diberi waktu untuk pulih.
Sebuah filosofi ekologis yang, jika dimasukkan ke dalam perencanaan tata ruang pesisir, bisa menjadi model konservasi berbasis lokal yang otentik.
Pentingnya Peran DKD
Di sinilah peran Pemda (Pemerintah Daerah) untuk mengokestrasi komunitas seni dan budaya, terutama peran strategis dari Dewan Kebudayaan Daerah (DKD) Kabupaten Lombok Utara menjadi sangat krusial. Mereka tak bisa hanya menjadi institusi simbolik yang muncul saat Festival Gili atau pelantikan kepala desa saja.
DKD seharusnya menjadi pengarsip yang aktif dan fasilitator yang progresif dalam memetakan serta menjaga keberlanjutan khasanah budaya daerah. Salah satu langkah mendesak adalah menginventarisasi tradisi-tradisi lokal seperti Nyelametang Telokan, yang mulai hilang dari ingatan kolektif.
Inventarisasi budaya bukan semata kerja dokumentatif. Ia adalah langkah awal menuju regenerasi. Ketika budaya tak lagi hanya dilihat sebagai sisa-sisa masa lalu, tetapi sebagai fondasi pendidikan dan identitas hari ini.
Itulah mengapa penting mendorong tradisi semacam ini menjadi bagian dari kurikulum muatan lokal di sekolah-sekolah dasar dan menengah. Bukan sekadar mencetak ulang legenda, tetapi membangun pemahaman bahwa budaya dan lingkungan hidup tidak bisa dipisahkan.
Bayangkan anak-anak pesisir belajar tentang laut bukan hanya dari buku IPA, tetapi melalui praktik budaya orang tuanya. Mereka diajak menganyam makna dari tiap sesajen yang dihanyutkan, dari tiap doa yang dibisikkan ke laut. Di situlah pendidikan ekologis yang utuh lahir—bukan dari larangan, tetapi dari cinta dan penghormatan.
Kita tak sedang bicara tentang pelestarian tradisi demi kepentingan festival budaya. Kita sedang bicara tentang ruang hidup, tentang pertahanan ekologis berbasis kultural, dan tentang hak komunitas lokal atas sejarahnya sendiri. Karena tanpa pemeliharaan memori kultural seperti Nyelametang Telokan, identitas kolektif masyarakat pesisir akan tercerabut dari akarnya.
Kini, dua batang bambu yang dulu ditancapkan di tengah laut, hanya tinggal menjadi metafora sunyi. Ia menunggu tangan-tangan baru yang bersedia menyelamatkan tidak hanya pantai, tetapi juga warisan kultural yang melekat di pasir, ombak, dan udara di sekitarnya. Jika tidak sekarang, kapan lagi?!

































