Lombokvibes.com, Lombok Utara – Prestasi penulis asal Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB), Arianto Adipurwanto, terus bertambah. Setelah terpilih sebagai satu dari sepuluh penulis Emerging Writers Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2026, Arianto kini meraih Sitor Situmorang Award 2026 dan berkesempatan tampil di festival sastra internasional di Den Haag, Belanda.
Arianto menerima Sitor Situmorang Award pada 21 Oktober 2026 di Ubud, Bali. Penghargaan tersebut diberikan oleh Yayasan Sitor Situmorang, Jakarta, bekerja sama dengan Yayasan Mudra Swari Saraswati, Ubud, dan Writers Unlimited International Literature Festival di Den Haag.
Melalui kolaborasi yang untuk pertama kalinya terjalin tahun ini, UWRF memilih salah satu penerima Sitor Situmorang Award untuk mendapatkan dukungan menghadiri Writers Unlimited International Literature Festival. Arianto dijadwalkan mengikuti festival tersebut di Den Haag pada 21–24 Januari 2027.
Pencapaian ini menjadi babak baru perjalanan Arianto di dunia sastra. Penulis kelahiran Lombok Utara itu tidak hanya mendapat pengakuan melalui program Emerging Writers UWRF, tetapi juga memperoleh kesempatan membawa karya dan gagasannya ke panggung sastra internasional.
Sebelumnya, Arianto resmi terpilih sebagai salah satu dari sepuluh penulis Emerging Writers UWRF 2026. Ia menjadi satu-satunya perwakilan dari Lombok Utara dan NTB yang masuk dalam daftar tersebut.
Program Emerging Writers UWRF merupakan agenda tahunan yang diselenggarakan Yayasan Mudra Swari Saraswati sejak 2008. Pada 2026, seleksi diikuti 634 penulis dari berbagai daerah di Indonesia. Dari ratusan naskah cerpen yang masuk, hanya sepuluh penulis yang terpilih untuk mengikuti pembekalan dan pelatihan serta menerbitkan karya dalam antologi tahunan UWRF.
Cerpen Arianto berjudul Perempuan Ular menjadi salah satu karya yang menarik perhatian kurator. Cerpen tersebut dinilai memiliki kekuatan simbolik dalam membicarakan ketakutan manusia terhadap sosok yang dianggap berbeda, tidak sepenuhnya dipahami, dan kerap mendapat stigma.
Dalam catatan kurator, karya Arianto menghadirkan lokalitas bukan sekadar latar budaya, melainkan juga ruang politis dan estetis untuk merebut kembali hak bercerita. Tokoh-tokoh yang dianggap sebagai “liyan” diberi nama, sementara tokoh-tokoh yang dianggap “normal” dibiarkan anonim. Pilihan tersebut dinilai memiliki dampak penting terhadap cara pembaca memahami cerita.
Rekam Jejak Sastra dari Lombok Utara
Arianto Adipurwanto bukan nama baru dalam dunia sastra Indonesia. Penulis dan pendidik asal Selebung, Lombok Utara, itu telah menekuni dunia kepenulisan secara konsisten selama bertahun-tahun.
Pada 2017, ia diundang berpartisipasi dalam Literature & Ideas Festival (LIFEs) di Salihara, Jakarta. Forum tersebut mempertemukan penulis, pemikir, dan seniman dari berbagai latar belakang.
Setahun kemudian, Arianto menerbitkan kumpulan cerpen pertamanya, Bugiali, melalui Pustaka Jaya. Buku tersebut masuk lima besar Penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa 2019.
Perjalanannya berlanjut melalui buku Iblis Tanah Suci, yang diterbitkan Diva Press pada 2024. Buku ini masuk daftar pendek Kusala Sastra Khatulistiwa 2025, menjadi finalis Hadiah Sastra Ayu Utami, serta masuk nominasi penghargaan sastra tingkat nasional pada 2024.
Selain menulis, Arianto berkiprah sebagai pendidik dan mengajar di MTsN 1 Kota Bima. Ia juga terlibat dalam kegiatan kesastraan melalui Komunitas Akarpohon di Mataram. Pendidikan sarjananya ditempuh pada Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Mataram.
Pengalaman di dunia pendidikan dan komunitas turut membentuk perjalanan kreatif Arianto, yang banyak bersinggungan dengan realitas sosial, persoalan kemanusiaan, dan identitas lokal.
Konsisten Membumikan Dialek Sasak Lombok Utara
Salah satu ciri yang menonjol dalam karya Arianto adalah konsistensinya menggunakan dialek Sasak khas Lombok Utara, yakni Keto-Kete.
Di tengah arus modernisasi dan globalisasi bahasa, Arianto justru memilih untuk terus membumikan bahasa ibu. Baginya, menulis dari akar budaya sendiri merupakan cara menjaga identitas sekaligus menghadirkan pengalaman lokal ke dalam sastra.
Ia merupakan penulis Bugiali (2018) dan Iblis Tanah Suci (2024). Karya terbarunya berupa cerita anak berjudul Bale Balaq Baloq Dulinep juga memperlihatkan perhatian tersebut.
Cerita anak itu terpilih untuk dipublikasikan melalui Sayembara Kepenulisan Cerita Anak 2025 yang diselenggarakan Balai Bahasa Provinsi NTB. Karya tersebut direncanakan terbit dalam dua bahasa, yakni Bahasa Indonesia dan Bahasa Sasak khas Lombok Utara.
Arianto memandang penggunaan bahasa dan nama-nama lokal sebagai bagian penting dalam membangun keutuhan cerita.
“Menulis dengan setting yang jelas, seperti kampung halaman saya, mau tidak mau harus saya sertai dengan bahasa dan nama-nama yang khas. Itu bagian dari keutuhan cerita,” ujar Arianto.
Baginya, bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan cermin identitas dan ruang refleksi budaya. Saat menulis kehidupan kampung di dekat hutan yang kerap diwakili oleh tempat kelahirannya, Lelenggo, ia merasa nama-nama lokal menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari narasi.
“Kalau nama-nama lokal itu diganti dengan yang kekinian, nuansa cerita saya akan berubah. Nama adalah bagian dari atmosfer,” tambahnya.
Ketertarikannya terhadap bahasa Sasak Lombok Utara tumbuh melalui proses panjang, salah satunya ketika menerjemahkan cerpen berbahasa Indonesia miliknya ke dalam bahasa Sasak. Proses itu mendorongnya menggali lebih jauh kekayaan bahasa dan budaya lokal.
Melalui karya-karyanya, Arianto berupaya menjadikan dialek Keto-Kete bukan hanya bahasa percakapan sehari-hari, tetapi juga bahasa sastra yang mampu menjangkau pembaca lebih luas.
Membawa Cerita Lokal ke Panggung Internasional
Bagi Arianto, perjalanan dalam dunia sastra bukan semata tentang penghargaan, melainkan juga kesempatan untuk terus bertumbuh sebagai penulis.
Ketika mengikuti seleksi Emerging Writers UWRF, ia mengaku ingin memanfaatkan peluang untuk mengembangkan diri dan tetap terhubung dengan dunia sastra yang telah membentuknya.
Ia juga pernah mengungkapkan bahwa berada di luar Lombok menjadi dorongan tersendiri untuk menjaga hubungan dengan komunitas dan teman-teman diskusinya.
Baginya, keterlibatan dalam forum sastra merupakan bagian dari upaya mempertahankan jalur kepenulisan yang telah dipilihnya.
Kini, setelah masuk sepuluh besar Emerging Writers UWRF 2026 dan menerima Sitor Situmorang Award 2026, Arianto memperoleh kesempatan baru untuk memperluas pengalaman sastra di tingkat internasional.
Kehadirannya dalam Writers Unlimited International Literature Festival di Den Haag pada 21–24 Januari 2027 mendatang diharapkan menjadi ruang pertemuan dengan penulis dan pegiat sastra dari berbagai negara.
Bagi Lombok Utara dan NTB, perjalanan Arianto memperlihatkan bahwa karya yang berangkat dari pengalaman lokal dapat menemukan ruang di forum sastra yang lebih luas.
Dari dialek Keto-Kete, nama-nama tempat di kampung halaman, hingga cerita tentang manusia yang kerap dianggap berbeda, Arianto terus merawat identitas lokal sebagai bagian dari perjalanan kreatifnya.
Kini, ia bersiap membawa pengalaman dan perspektif tersebut ke panggung sastra internasional.





























