Ketika semangat literasi tumbuh di tengah alam Mata Air Medjet Kakong lewat pelatihan menulis “Aku dan Kampungku” 

Property of Lombokvibes.com
Property of Lombokvibes.com

Lombokvibes.com, Lombok Utara – Suasana parkiran Mata Air Medjet Kakong, Desa Selelos, Lombok Utara, pada Sabtu sore itu terasa berbeda. Bukan musik pesta atau panggung hiburan, melainkan suara diskusi dan ketikan pena yang mengisi ruang terbuka. Di sinilah pelatihan menulis bertajuk “Aku dan Kampungku” digelar, menjadi bagian dari rangkaian Mimbar Buku 2025 Sanggar Anak Gunung (SAG).

De Galih Mulyadi, panitia penyelenggara, menjelaskan bahwa tema ini dipilih karena dianggap dekat dengan keseharian peserta, yang sebagian besar masih penulis pemula bahkan ada yang belum pernah menulis sama sekali. Dengan tema kampung halaman, peserta diharapkan mampu menemukan gagasan menulis dari pengalaman pribadi maupun lingkungan sekitar.

“Banyak karya lahir dari kedekatan dengan kampung. Salah satunya Arianto Adipurwanto, cerpenis Lombok Utara yang berhasil menembus tingkat nasional dengan inspirasi dari tanah kelahirannya,” ujar Mulyadi.

Tiga mentor hadir memberikan wawasan berbeda. Arianto Adipurwanto membawakan materi “Cerpen dan Kampung Halaman”, Lamuh Syamsuar dengan “Esai dan Kekayaan Budaya”, serta Kiki Sulistyo yang menutup sesi dengan tema “Rahasia Menulis Ampenan”.

Berbeda dari pelatihan biasanya, kegiatan ini sengaja digelar sederhana di alam terbuka. Tanpa tenda besar, hanya kursi, banner, dan pengeras suara, namun justru membuat suasana lebih akrab. Sebanyak 60 peserta dari berbagai latar belakang – pelajar, mahasiswa, guru, komunitas, hingga perangkat desa – mengikuti dengan antusias.

Bahkan Didi Retno, Sekretaris Desa Selelos yang awalnya hanya diminta memberi sambutan, akhirnya memilih ikut menjadi peserta dalam kelas esai. 

  • IMG_7039

“Workshop seperti ini jarang sekali ada di kampung. Sangat bagus untuk membuka wawasan pemuda agar tidak terlepas dari akar budaya kita,” ungkapnya.

Meski jadwal observasi lapangan terpaksa dipangkas karena keterbatasan waktu, sesi akhir tetap berlangsung seru. Kiki Sulistyo mengarahkan seluruh peserta menulis puisi singkat, kemudian digabung menjadi satu karya panjang yang akan ditampilkan pada malam penutupan Mimbar Buku.

Warga sekitar yang penasaran sempat mengira kegiatan ini sebagai pementasan drama. Namun, kehadiran pemuda Pokdarwis Medjet Kakong yang membantu pelaksanaan membuat istilah sastra, cerpen, puisi, dan esai mulai akrab di telinga masyarakat setempat.

De Galih Mulyadi juga menyebut, kegiatan ini sebagai momentum penting lahirnya literasi di kampung. 

“Ini kali pertama pelatihan menulis diadakan di sini. Ibu-ibu, anak-anak, semua mulai bertanya apa itu sastra. Mungkin asing bagi kampung, tapi justru dari sini sastra bisa tumbuh di Lombok Utara. Tidak ada kata terlambat,” sebutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!