Lombokvibes.com, Mataram- Rinjani tidak pernah berbicara secara langsung kecuali sangat terpaksa. Begitulah yang leluhur orang Sasak ajarkan. Terakhir kali, Rinjani (saat itu namanya Samalas) angkat bicara ratusan tahun lalu, dan itu mengakibatkan perubahan besar-besaran pada Pulau Lombok (secara geologis) dan pada suku Sasak (secara kebudayaan). Tragedi meninggalnya warga Brazil kemarin mungkin bisa dianggap “dehem kecil” Rinjani.
Bukan saya tidak berduka atas kematian seorang pendaki, yang nyawanya tentu amat penting dari kacamata kemanusiaan (terlebih lagi seorang warga asing yang berpelesiran di Pulau Lombok, yang aktivitasnya di sini meningkatkan pendapatan daerah). Namun, saya ingin mengingatkan duka lain yang sama pentingnya dari kacamata kemanusiaan dan hampir tidak pernah mendapatkan porsi pembahasan yang memadai, yaitu:
“komersialisasi Rinjani”.
Masalah komersialisasi Rinjani ini bisa kita bidik lewat beberapa isu.
Pertama, soal hujatan warga Brazil (dan sebagian warga Indonesia) kemarin. Orang-orang mungkin berpikir Rinjani itu seperti bidang datar. Padahal, Rinjani adalah gunung dengan medan yang kompleks, dan mengekstrem terutama menjelang puncak. Terlebih, titik jatuhnya almarhumah adalah titik yang sulit digapai, dan tanah (berpasirnya) rentan bergeser. Semestinya tim penyelamat tidak perlu disalahkan karena terlambat mengevakuasi jenazah. Namun, mereka (dan pemerintah Indonesia, tentu saja, kecipratan) dihujat seolah-olah Rinjani adalah hotel yang pramutamunya bebas diomeli ketika kelihatan tidak becus bekerja.
Hujatan netizen (Brazil dan Indonesia) itu, menurut saya, adalah perilaku khas hasil dari melihat Rinjani sebagai semata-mata bisnis hospitality. Dan, sayang sekali sikap semacam itu datang dari Brazil, negara dengan salah satu kawasan masyarakat adat pelindung hutan terbesar di dunia. Mereka seharusnya familiar dengan tabiat alam, dan lebih mudah mengerti cara pandang tradisi terhadap ruang-ruang hayat seperti hutan dan gunung.
Kedua, soal tata ruang ruang hayat tradisional (berbasis tradisi).
Karena Rinjani hanya dilihat dari perpektif bisnis wisata, tata ruang Rinjani yang telah dipetakan dan dimanfaatkan secara tradisi oleh masyarakat Sasak selama ratusan tahun pun dianggap tidak penting.
Rinjani itu seluruh bagiannya sakral dan Orang Sasak telah membaginya ke dalam “ruang-ruang” dan “jalur-jalur” tertentu.
Pada setiap ruang dan jalur, mulai dari pelawangan (pintu masuk yang tersebar di desa-desa tua seperti Sembalun dan Senaru) terdapat keharusan untuk melakukan ritual tertentu (misalnya bukaq jebak dan sembeq) serta menjaga norma-norma adat dan agama. Sekarang, semua persyaratan itu digantikan oleh selembar tiket yang diperoleh dari membayar uang murah di loket dan, avada kedavra, semua orang berhak melakukan apa saja di Rinjani berdasarkan standar kepatutan pariwisata, bukan standar kepatutan adat.
Saya mengenal seorang tokoh tradisi yang menyampaikan pada saya bahwa titik jatuhnya pendaki itu dekat dengan jalur kuno menuju Segara Muncar: jalur khusus pendaki-tradisi yang mendaki dengan mempertahankan ritual dan tata cara tradisi untuk tujuan memperdalam spiritualitas. Jalur khusus menuntut perlakuan khusus, itu adalah hukum mutlak di dunia tradisi dan spiritual. Jalur itu mestinya tidak boleh didekati pendaki secara sembrono tanpa menjalani syarat-syarat tertentu untuk memastikan kosmos Rinjani bersikap ramah.
Cara pandang tokoh tadi mungkin akan dianggap mengada-ada dan tampak seperti tidak punya empati pada korban. Namun, menuduhnya mengada-ada menunjukkan dengan begitu jelas cara-cara masyarakat modern mengkerdilkan wawasan tradisi (yang sebetulnya hal itu juga menunjukkan betapa dangkalnya pemikiran kosmologis masyarakat modern).
Secara ekologis, Rinjani milik semua orang. Siapapun berhak berada dan menerima manfaat ekologis dari Rinjani. Namun, secara nilai, Rinjani milik Orang Sasak. Seharusnya Orang Sasak berhak didengar dan sistem pengatahuan mereka terkait Rinjani mesti dirujuk. Itu hak yang mereka peroleh dari kerja-kerja kebudayaan mereka dalam menjaga Rinjani selama ratusan bahkan ribuan tahun, jauh sebelum negara ada. Sistem pengetahuan itu, yang dijaga melalui berbagai khazanah tradisi, salah satunya pendakian tradisi tadi, masih dilestarikan hingga kini, kendati hal itu kini langka dan dilakukan oleh sangat segelintir orang.
Kini, kepemilikan Rinjani secara nilai itu (dipaksa) menggelincir dari tangan Orang Sasak ke tangan negara melalui pemerintah daerah untuk mengambil keuntungan yang bukan main besarnya dari kegiatan pariwisata di lingkar Rinjani. Motif pendakian pun sudah jauh berubah: dari ketakziman, kedalaman, dan konservasi, berganti ke rekreasi, validasi, dan viralitas. Media sosial telah menjadi agama dan uang menjadi Tuhan. Rinjani diperalat dengan banal.
Ketiga, soal dampak dari kapitalisasi.
Bukan cuma negara yang meraup keuntungan besar dari wisata di lingkar Rinjani, melainkan juga kelompok pengusaha. Masyarakat Rinjani pun, disadari atau tidak, babak belur dibuatnya.
Warga Sembalun, misalnya, berebut hak atas air tanah dengan bisnis-bisnis penginapan yang menggunakan sumur bor. Kini, banyak mata air Sembalun yang menyusut drastis. Ini satu dari sekian masalah yang tidak dipotret oleh gebyar pariwisata. Saya mulai menyadari hal-hal ini setelah mengisi FGD dengan warga Sembalun, difasilitasi oleh komunitas kolektif Sembalunina.
Di antara yang jarang dipotret adalah nasib porter dan perubahan mata pencaharian generasi muda Sembalun. Porter Rinjani terkenal tangguh dan menuai pujian banyak wisatawan, tapi tidak ada yang mengkisar menjadi seberapa bergantungkah mereka pada industri wisata ini (dampaknya bila wisata ini “harus” redup sedangkan sektor pertanian cukup lama tidak menjadi prioritas). Tidak ada yang memotret tentang apa yang para porter itu lakukan untuk berinvestasi untuk kesehatan tubuh sebagai porter, yang beban kerja fisiknya pasti terakumulasi dalam tahun-tahun ke depan. Tidak juga persoalan “rebutan lahan”: masalah yang tidak pernah terjadi dalam riwayat pengasuhan Orang Sasak terhadap Rinjani sebelum Rinjani dipariwisatakan. Ini belum masuk ke pembicaraan tentang perilaku porter yang tidak terpuji, sebagai suatu retakan akibat memandang tugas keporteran sebagai murni untuk uang.
Pada tahun 2020, Kompas melaporan rencana pemerintah memberi izin bagi tiga investor pariwisata besar di Rinjani: PT Indonesia Lombok Resort untuk izin pembangunan kereta gantung, PT Rinjani Glamping Indonesia untuk izin wisata kemah mewah atau glamorous camping di tepi Danau Segara Anak, dan PT Airbus Helicopter Indonesia untuk izin wisata helikopter. Semuanya direspon positif oleh Gubernur NTB, tapi ditolak oleh mayoritas Orang Sasak dan berakhir menjadi conggah (keributan, kekacauan) di tengah masyarakat.
Kabar terakhir, investor Australia sedang menyiapkan Smart City di kawasan selatan Lombok, dengan biaya project sebesar sekitar 90 triliyun. Entah benar entah tidak, saya belum melakukan kroscek. Tapi jika benar, orang Sasak harusnya masygul, bukan bahagia menyambutnya. Orang Sasak sudah seharusnya berhenti diam dan mulai menentang pembangunan yang tidak sesuai dengan karakter kebudayaan Sasak dan yang bermaksud melayani pendatang dan turis sebelum keadilan sosial bagi masyarakat setempat ditegakkan oleh negara.
Orang Sasak yang mengerti nilai keberadaan Rinjani berharap pemerintah mau mendesain wisata berdasarkan “mata”, “kepala”, dan “hati” Orang Sasak; suatu pengembangan daerah yang berasaskan pada budaya dan kebudayaan Sasak. Sayangnya, ini sulit dilakukan. Uang kepalang sudah menjadi Tuhan, dan kemajuan terlanjur identik dengan proyek dan pembangunan-pembangunan baru demi pendapatan daerah.
Itulah spektrum bencana yang menurut saya lebih mengkhawatirkan, yakni yang berkaitan dengan pengikisan, peminggiran, dan perampasan orang Sasak dari ruang hayat dan alam budayanya. Gawatnya, bencana ini mulai meluas, dari daya (gunung) sampai lauq (laut). Di kawasan selatan Lombok, Orang Sasak dan tata ruangnya benar-benar mulai diatur oleh kelompok pengusaha. Itu adalah bagian dari conggah yang terjadi sejak KEK dan sirkuit dicanangkan. Semua conggah telah dicatat oleh banyak jurnalis, aktivis, dan peneliti dan bisa diakses oleh publik.
Namun, sekali lagi, semua itu luput (atau sengaja diluputkan) dari bidikan potret gebyar wisata. Jejaring influencer, pegiat komunitas, dan pekerja kreatif yang aktif menjadi corong pemerintah untuk menghangatkan pariwisata di Lombok kompak tutup mata dengan masalah-masalah di atas. Padahal semua ini harus dipotret, meski nama baik jadi harus dikorbankan sementara. Masalah harus diakui, lalu dibereskan. Nama baik akan pulih dengan sendirinya kalau perbaikan sudah dilakukan.
Tidak ada yang bisa merusak Rinjani kecuali Orang Sasak. Orang Sasaklah yang bisa melakukanya, dengan cara membiarkan, mengabaikan, atau menyilakan kerusakan itu, bahkan terlibat di dalamnya secara sadar atau tidak. Dan ingatlah bahwa Rinjani, sebagai pasak dari bumi, sebagai entitas yang hidup, terus mengadukan kerusakan-kerusakan yang kita perbuat atau kita biarkan itu kepada Allah. Ini sesuai dengan iman adat-game Sasak, sesuai pula dengan tafsir surat al-Zalzalah ayat 4 dan 5. Apabila saatnya nanti Rinjani memutuskan untuk bicara, kita juga yang akan menderita.
[]
/
Tabeq, tabeq ….
tanaq, aiq, angin, api, batu,
kayuq, tetanduran, tabeq …
/
Tabeq, tabeq …
ulah, lepang, balang
kenodak, tabeq …
/
Tabeq, tabeq …
arwah ilang rarat
lan kumilit kumalat, tabeq …
/
Tabeq, tabeq …
para malekat muqarrabiin, tabeq ….
Ingsun matur salam, Gumi Sasak, Gumi Slam
Tabur beras kuning, sengareq gula kelapa,
aiq kumkuman kembang setaman.
Bismillaah, ingsun lengkak side.
Inaqku eleq julu, amaqku eleq mudi,
Allah ta’aala melingkupi.
(petikan mantra dalam ritual asuh gunung)
[]
Nalika hing mangsa hika
Sang Hyang Suksma murka hing makhluk neki
Tengah dalu rawuhipun hudan nangin ributta
sakeh watu kayu gunung pada rubuh
gentuh watu habalabar
dar saking luhur wukir
Gunung Rinjani kularat, miwah
gunung Samalas rak-rak teki
balabur watu gumuruh
tibeng desa pamatan
yata kanyut bale haling
parubuh kurambang ning sagara
wong hipun halong kang mati
(petikan puh Babad Lombok)
(*Tulisan di atas sudah dimuat di medium.com)

































